Senin, 06 Agustus 2018

Tambak Garam




            Garam bagi masyarakat Madura merupakan bagian dari kehidupan mereka sehingga dapat dikatakan bahwa membuat garam adalah bagian dari budaya masyarakat Madura, oleh karena itu tidak mengherankan lagi jika Pulau Madura disebut juga sebagai Pulau Garam.
Masyarakat Madura membuat garam sudah dilakukan sejak dulu, yaitu pada sekitar masih berdirinya Keraton Sumenep. Namun demikian, keadaan yang menunjukkan, bahwa meskipun sampai saat ini garam belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat khususnya para petani garam.
Batas wilayah tambak garam di desa ragungkebanyakan merupakan milik warga dan sebagian wilayah milik PT. Garam. dimana wilayah para petani garam di desa ragung berada di sebelah timur dan wilayah PT. Garam berada di sebelah barat. Dimana mata pencaharian masyaraakat desa ragung sebagai petani mencapai : 1696 orang. sedangkan hasil dari panen garam warga di jual ke pedagang sekitar.
Sesuai iklim Desa ragung mempunyai 2 musim yaitu : musim kemarau dan musim hujan. Pada waktu musim kemarau masyarakat desa ragung biasanya membuat garam, dan saat memasuki musim penghujan masyarakat biasanya mananam padi, jagung, kacang panjang dll. Sesuai dengan kondisi iklim tersebut maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat desa Ragung sanggat menggantungkan pada curah hujan yang tidak menentu. hal itu dikarenakan tidak adanya sistem irigasi yang dimana tidak adanya aliran sungai air tawar atau sumber air yang cukup
Dalam pembuaatan garam biasanya ada 3 pekerja dalam tambak garam yaitu: Pekerja garam (Dimana pekerja garam berkerja pada lahan garam dan menjaga garam selama proses pembuatan), Penimbun garam (penimbun garam yakni orang yang berkerja saat ada panen garam dimana membutuhkan banyak orang), dan Ojek garam ( yakni pekerjaan sebagai pengantar garam).
Dalam proses pembuatan garam masyarakat Desa Ragung meciptakan garam melalui panas matahari dengan peralatan semacam ghulu’ (berbentuk silinder terbuat untuk meratakan dan memadatkan tanah), senggut (untuk memindahkan air dengan bantuan kincir angin dari kanal-kanal ke petakan tambak), sorkot (untuk meratakan garam di petakan tambak atau untuk mengumpulkan garam saat panen), Kancor (sendok garam yang berukuran agak besar), raca (terbuat ari kayu untuk membolak-balikan garam agar semakin mengkristal), renjing atau bhejut (wadah garam untuk meratakan garam di karung ).
Dalam proses pembuatannya, petani garam memerlukan waktu sekitar 25-28 hari untuk menguapkan air laut di tambak. Setelah benar- benar mengkristal dengan rentang waktu itu. Maka garam sudah siap untuk dipanen. Butiran garam yang baru diangkat dari petakan tambak belum benar-benar kering. Karena itu, garam yang sudah dipanen masih di panaskan lagi di bawah terik matahari serta dianginkan melalui embusan angin pantai sekitar 4-10 hari.

Tabel rata-rata panen garam yang dihasilkan
No.
Bulan
Musim
banyak yang dihasilkan
Ket.
1
Januari
Hujan
-

2
Februari
Hujan
-

3
Maret
Hujan
-

4
April
Kemarau
60 -70 karung (perminggunya)
Terhitung Dalam lahan sekitar 1 Ha
5
Mei
Kemarau
60 -70 karung (perminggunya)

6
Juni
Kemarau
60 -70 karung (perminggunya)

7
July
Kemarau
60 -70 karung (perminggunya)

8
Agustus
Kemarau
60 -70 karung (perminggunya)

9
September
Kemarau
60 -70 karung (perminggunya)

10
Oktober
Kemarau
60 -70 karung (perminggunya)

11
November
Hujan
-

12
Desember
Hujan
-


Dimana harga tiap 1 karung garamnya pada tahun 2017 sekitar Rp 150 ribu rupiah sampai Rp 200 ribu rupiah, akan tetapi di tahun 2018 harga garam turun menjadi Rp 40 ribu sampai Rp 70 ribu rupiah. Hal ini timbul akibat adanya ekpor garam dari luar negara yang masuk di indonesia. Hal lain yang memicu turunnya garam yakni Tergantung pada hasil garam yang di buat, apakah gramnya berwarna putih bening atau kecoklatan. semakin putih atau beningnya garam yang di hasilkan maka akan semakin mahal harga garam tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar